Nabi Musa bin Imron bin
Qahat bin Lawi bin Ya’qub beribukan Yukhabad. Beliau
manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan
bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun
mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah
kepada Nabi Ibrahim AS, yaitu tanah Kanaan. Ia diangkat
menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM.
Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara
dengan Allah). Musa merupakan figur yang paling sering
disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta
termasuk golongan Ulul Azmi.
Nabi Musa harus melewati berbagai macam rintangan
sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai
orang yang diutus oleh Allah untuk membebaskan kaum
Bani Israel. Misalnya, hampir dibunuh ketika ia masih
bayi, dikejar-kejar oleh Fira’un, sampai harus menjalani
hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.
Nabi Musa as merupakan anak laki-laki Imron bin Yash-
har, dan bersaudara dengan Nabi Harun as serta Miryam.
Nabi Musa dilahirkan pada waktu zaman raja yang sangat
zalim yaitu Fir’aun sebagai penguasa Mesir dan disembah
oleh orang-orang Mesir.
Hingga tibalah suatu masa kaum Bani Israel semakin
banyak dan semakin menyebar. Raja Fir’aun yang kafir,
bengis dan menganggap dirinya Tuhan itu melihat bahwa
Bani Israel semakin banyak dan semakin berkembang.
Pada suatu malam, Fir’aun bermimpi bahwa mahkota
yang dipakainya hilang. Untuk mengartikan mimpi
tersebut, Fir’aun memanggil ahli ramalnya. Berdasarkan
ramalan, mimpi itu disebut merupakan pertanda bahwa
pada suatu masa kekuasaan raja akan terancam oleh
seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi akan dilahirkan.
Mendengar arti mimpi tersebut, Fir’aun kemudian
memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua
bayi laki-laki yang lahir di negerinya.
Namun para penasehat dan pakar ekonomi kerajaan
berkata kepada Fir’aun; Orang-orang tua dari Bani Israel
akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak
kecil disembelih, maka ini akan berakhir pada hancurnya
dan binasanya Bani Israil. Tetapi Firaun akan kehilangan
kekayaan dan asset manusia yang dapat bekerja
untuknya atau menjadi budak-budaknya serta wanita-
wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik
adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai
berikut: anak laki-laki disembelih pada tahun pertama,
dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya.
Fir’aun pun setuju dengan pendapat itu, karena
mengganggap pemikiran itu lebih menguntungkan dari
sisi ekonomi.
Ketika ibu Nabi Musa mengandung nabi Harun, aturan itu
belum dilaksanakan dimana anak-anak kecil laki-laki
tidak dibunuh dan para ibu bisa melahirkan dengan
terang-terangan. Namun ketika melahirkan mengandung
Nabi Musa, ia berada di tahun dimana anak-anak kecil
harus dibunuh. Sang ibu pun merasa sangat cemas dan
ketahukan yang luar biasa. Ia takut bahwa jangan-jangan
anak yang kelak dilahirkannya akan iktu dibunuh. Ia pun
melahirkan Nabi Musa secara diam-diam. Dan untuk
menyembunyikan bayinya, sang ibu pun menyusui secara
sembunyi-sembunyi. Lalu tibalah suatu malah yang
penuh berkah, dimana saat itu Allah Yang Maha
Mengetahui memberi wahyu kepadanya, sebagai berikut:
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia dan
apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah
dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan
janganlah (pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya
kami akan mengembalikannya kepadamu, dan
menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Qs 28 :
7)
Mendengar wahyu Allah dan panggilan yang penuh kasih
sayang serta suci itu, ibu Nabi Musa langsung
mentaatinya. Lalu ia membuat peti kecil untuk Nabi Musa
as. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di di dalam
peti. Kemudian ia berangkat ke tepi sungai Nil lalu
menghanyutkan bayinya di atas air. Ibu mana yang tega
membuang anak yang dilahirkannya, hatinya penuh
derita ketika ia melempar anaknya di sungai Nil. Namun,
semua itu ia lakukan karena merupakan perintah dari
Allah.
Beberapa saat setelah hanyut di sungai Nil, Allah
memerintahkan arus sungai Nil agar menjadi tenang dan
mengalir lembut demi bayi yang dibawanya yang kelak
akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa
memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan
membawa keselamatan bagi nabi Ibrahim as, begitu juga
Allah memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa
Nabi Musa dengan tenang dan penuh kelembutan
sehingga mengarahkannya ke istana raja Fir’aun. Lalu,
air sungai Nil tersebut membawa peti yang berisi Nabi
Musa menuju arah istana raja fir’aun.
Setelah sampai di tepi dekat istana, bayi Nabi Musa ini
ditemukan oleh istri Fir’aun yang kebetulan keluar untuk
berjalan-jalan di kebun istana. Istri raja Fir’aun tidak
sama dengan Fir’aun. Wanita itu memiliki sifat yang amat
baik dan lembut. Namun wanita itu merasakan kesedihan
yang dalam karena ia belum mampu melahirkan anak. Ia
ingin sekali memiliki anak. Ketika ia melihat Musa yang
hanyut, maka muncullah keinginan untuk merawat bayi
tersebut.
Setelah menemukan bayi itu, istri Fir’aun pun
membawanya pulang ke istana. Ia menggendong nabi
Musa yang sedari tadi menangis karena kelaparan. Di saat
yang sama Fir’aun sedang duduk di atas meja makan dan
ia menunggu istrinya yang tak kunjung datang hingga
mulai marah lalu mencarinya.
Tiba-tiba Fir’aun terkejut saat melihat isterinya
menggendong seorang bayi. Kemudian Fir’aun bertanya:
“Dari mana datangnya anak kecil ini?” Kemudian sang
istri menceritakan bahwa ia menemukannya di sebuah
peti di tepi sungai dan memerintah prajurit
menyelematkan bayi hanyut itu. Fir’aun berkata: “Ini
adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan
peraturan, anak-anak yang lahir di tahun ini harus
dibunuh”. Mendengar perkataan dari Fir’aun itu, ia
menangis. Ia memeluk Nabi Musa dengan erat dan
memohon agar kali ini keinginannya merawat bayi itu
dikabulkan.
Seperti yang tertulis dalam Al Qur’an:
“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk
mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu
membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada
kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tidak
menyadarinya.” (Qs. 28:9)
Fir’aun tampak kebingungan melihat tingkah isterinya
yang begitu melindungi bayi yang ia temukan. Fir’aun
tampak tak percaya dimana ia tidak pernah mendapati
isterinya menangis karena sekhawatir dicampur rasa
bahagia. Fir’aun mulai luluh karena menyadari bahwa
istrinya menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri,
apalagi pernikahan mereka belum mendapatkan
keturunan.
Kisah Nabi Musa Bertemu Ibu Kandungnya
Istri Fir’aun tampak bahagia setelah keputusan yang
diambil oleh suaminya. Namun karena bukan ibu
kandung, ia mulai mendapat masalah lantaran Musa
mulai kelaparan dan membutuhkan susu. Kemudian
Fir’aun berkata: “Datangkanlah kepadanya wanita yang
menyusui dari istana”. Sayang, dari kesemua wanita
yang dipanggil, bayi Musa selalu menolak untuk disusui.
Melihat hal tersebut, istiri Firaun makin sedih dan
menangis karena tidak tahan melihat penderitaan bayi
yang baru ditemukannya itu. Ia dilanda kekalutan dan
kebingungan apa yang harus dilakukannya.
Tibalah saat ibu kandung Musa merindukan anaknya yang
ia buang ke sungai Nil. Ia juga mendengar kabar bahwa
ada bayi laki-laki yang ditemukan pihak kerajaan dan
dipelihara oleh permaisuri kerajaan.
Allah SWT menaruh kedamaian dalam hatinya: “Pergilah
dengan tenang ke istana firaun dan berusahalah untuk
mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau
hati-hati agar jangan sampai mereka mengetahuimu.”
Didorong rasa rindu, ia lalu berusaha pergi ke istana
Fir’aun untuk mendapatkan berita tentang bayinya.
Kemudian ia pergi dengan tenang. Ia bisa melihat nabi
Musa dari kejauhan dan mendengarkan suara
tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan
kebingungan lantaran mereka tidak mengetahui
bagaimana menyusuinya.
Ibu Nabi Musa mendekati para pengawal istana dan
menawarkan diri supaya diberi kesempatan untuk
membawa seseorang yang bisa menyusui bayi itu.
Disampaikanlah ke istri Fir’aun dan ia menjawab kalau
orang itu bisa maka ia akan memberi imbalan yang sangat
besar.
Maka si ibu yang sebetulnya adalah ibu kandung Musa
akhirnya menyusuinya dan Nabi Musa mulai tenang.
Melihat hal itu, istri Fir’aun sangat gembira dan
menyuruh ibu tersebut membawa Musa ketempatnya
hingga waktu menyusuinya selesai. Istri Fir’aun
berpesan, jika sudah selesai, ia meminta Musa untuk
segera dikembalikan ke istana. Itulah cara Allah Yang
Maha Adil dan Maha Kuasa mengembalikan Nabi Musa ke
dekapan ibunya.
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya
hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa,
seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia
termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang
perempuan, “Ikutilah dia”. Maka terlihatlah olehnya
Musah dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,
dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-
perempuan yhang mau menyusui-nya sebelum itu; maka
berkatalah saudara Musa: “Maikah kamu Aku tunjukkan
kepadamu Ahlubait yang akan memeliharanya untukmu
dan mereka dapat berlaku baik kepadanya. Maka Kami
kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya
dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui janji
Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya.” (Qs. 28 : 10 – 13)
Setelah proses menyusui selesai, Musa dikembalikan lagi
ke istana. Nabi Musa tumbuh dan dididik di istana
termegah itu di bawah bimbingan dan penjagaan Allah
SWT. Pendidikan Nabi Musa dimulai di rumah Fir’aun di
mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para
pengajar. Mesir saat itu merupakan negeri yang besar di
dunia dan Fir’aun sebagai raja yang paling kuat. Karena
itu dengan mudah Fir’aun mampu mengumpulkan para
pakar pendidikan dan para cendekiawan.
Nabi Musa tumbuh di istana Fir’aun. Beliau mempelajari
ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia dan bahasa.
Beliau juga dalam bimbingan agama yang benar sehingga
ia menepis semua anggapan jika Fir’aun itu Tuhan.
Hingga suatu ketika tiba waktu Nabi Musa juga
mengetahui bahwa sebenarnya ia bukanlah anak kandung
Fir’aun.
Singkat kisah, ada suatu masa kejadian dimana Musa
sempat membunuh seseorang. Kejadiannya terjadi saat
Musa melepaskan diri dari pengawal dan pergi ke kota.
Nabi Musa melihat perkelahian dan berniat untuk melerai
kedua orang yang berkelahi itu. Namun tanpa disengaja,
Musa malah membunuhnya. Kemudian nabi Musa berdoa
kepada Allah dan berkata:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku
maka ampunilah aku.”
Allah yang maha pengampun mengampuninya. Peristiwa
ini dikisahkan dalam Alquran:
Allah berfirman: “Dan setelah Musa sudah cukup umur
dan sempurna akalnya. Kami berikan kepadanya hikmah
kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya
sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu dua
orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari
golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya
(kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya
meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang
yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah
musuhnya itu.
Musa berkata: “Ini adalah perbuatan setan.
Sesungguhnya setan adalah musuh yang menyesatkan
lagi (permusuhannya). Musa berdoa: “Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri
karena itu ampunilah aku.”
Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya dialah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang engkau
anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan
menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”
Nabi Musa adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim. Kedua
dari kalangan Ulul Azmi. Tetapi Nabi Ibrahim merupakan
cermin kesabaran dan kelebutan sementara itu Nabi
Musa merupakan cermin dari kekuatan dan keperkasaan.
Mukjizat Nabi Musa
Nabi Musa menikahi anak gadis Nabi Syu’aib bernama
Shafura. Dari sinilah berawal turunnya wahyu dan
mukjizat Allah SWT kepadanya.
Dalam pernikahan tersebut terdapat sebuah perjanjian
yang mengharuskan Nabi Musa bekerja untuk Nabi
Syu’aib selama 10 tahun. Ternyata, sepuluh tahun waktu
yang dihabiskan oleh Nabi Musa bekerja untuk Nabi
Syu’aib di Madyan merupakan suatu ketentuan yang
dirancang oleh Allah SWT. Karena sebelum datangnya
wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, dari
situlah Nabi Musa memperkuat diri untuk menerima wayu
yang datang langsung dari Allah tanpa perantara
seorang malaikat.
Pada akhirnya, datang waktu Musa memutuskan kembali
ke Mesir. Meski tahu berbahaya bagi keselamatan dirinya
dan istrinya, Musa tetap memutuskan melakukan
perjalanan.
Musa mulai mendapatkan kesulitan karena sempat
tersesat. Tapi karena tersesatnya itu, ia melihat sebuah
api. Lalu ia berfikir ingin mendapatkannya untuk
dijadikan obor penerang jalan. Musa meninggalkan
istrinya sebentar untuk mendapatkan api itu. Namun
tiba-tiba saja, Musa mendengar sebuah suara dari api
tersebut yang ternyata wahyu dari Allah SWT.
“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia:
‘bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat
api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan
maha suci Allah, Tuhan semesta alam’. (Qs. 27 : 8)
Lalu Allah berfirman kepadanya: Sesungguhnya aku
inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu
(sendal), sesungguhnya kamu berada di lembah yang
suci, Thuwa’ (Qs. 20 : 12). Lembah tempat Nabi Musa as
berdiri adalah lembah Thuwa’. Nabi Musa as meletakkan
kedua tangannya di atas kedua matanya karena saking
dahsyatnya cahaya. Nabi Musa as ruku’ dan melepas
kedua sandalnya, kemudian Allah SWT kembali berkata:
“Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa
yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya aku
ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku,
maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingat aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan
datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap
tipa dari itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka
sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh
orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang
mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu
binasa. “(Qs. 20 : 13 – 16)
Allah bertanya tentang apa yang dipegang oleh Musa
(Tongkat) dan menyuruhnya untuk melemparkan benda
tersebut ke tanah. Dengan kebesaran Allah, tongkat itu
berubah menjadi ular. Tongkat ini jugalah awal dimana
Allah menyerukan Nabi Musa untuk menemui Fir’aun.
Inilah mukjizat pertama Allah kepada Musa As.
“Dan lemparkanlah tongkatmu,” maka tatkala (tongkat
itu menjadi luar) dan Musa melihatnya bergerak-gerak
seperti seekor ular yang gesit. Larilah ia berbalik ke
belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu
takut, sesungguhnya orang menjadi rasul, tidak takut di
hadapanku.” (Qs 27 :10)
Kemudian Allah SWT memerintahkannya untuk pergi
menemui Firaun dan berdakwah kepadanya. Dengan
adanya ketakutan, Nabi Musa berdoa kepada Allah agar
diberi kemudahan dan kekuatan.
Dalam melaksanakan dakwahnya. Allah pun menjamin
keselamatan utusannya dengan berjanji tidak ada
seorang pun yang bisa menyakiti Musa.
Allah SWT berfirman:
“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (firaun) dan
katakanlah : “sesungguhnya kami berdua adalah utusan
Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami
dan janganlah kamu menyiksa mereka.” (Qs. 20 : 47)
Berdua disini maksudnya bersama Nabi Harun. Ya,
seperti diceritakan dalam kisah Nabi Harun, Nabi Musa
memang secara khusus meminta kepada Allah SWT agar
saudaranya Harun diangkat menjadi Nabi untuk
membantunya berdakwah karena keunggulannya fasih
dalam berbicara/berdakwah.
Maka dari itu, Nabi Musa menjelasakan kepada Fir’aun
tentang siapa sebenarnya Allah SWT, tentang Rahmat-
Nya, tentang surga-Nya, dan tentang kewajiban
mengesankan-Nya dan menyembah-Nya. Namun Fir’aun
malah mengejek Musa dan berkata bahwa nabi Musa as
adalah tukang sihir.
Lalu Fir’aun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya
untuk bertanding melawan Nabi Musa as di suatu area
yang telah ditentukan waktu dan tempatnya. Di antara
mereka ada yang melemparkan tali, tongkat, maka
berubahlah tongkat dan tali itu menjadi ular yang
menjalar. Lalu nabi Musa merasa takut, karena telah
dikelilingi ular-ular yang berbisa.
Lalu Allah memerintahkan kepada Musa dengan
firmanNya:
“Lemparkanlah tongkat yang di tangan kananmu, nanti
berubah menjadi ular yang besar yang akan menelan
segala perbuatan mereka itu, sesungguhna kerja mereka
itu adalah tipu daya tukang sihir saja dan sekali-kali
tidaklah akan menang tukang sihir itu, bagaimanapun
juga.”
Akhirnya, semua ahli sihir termasuk istri Fir’aun, Siti
Aisah tunduk kepada Nabi Musa. Karena melihat tukang
sihirnya dan istrinya telah beriman kepada Nabi Musa,
Fir’aun dirasuki amarah yang begitu besar sehingga
isterinya disiksa hingga meninggal, demikian juga
orang-orang yang iktu beriman kepada Allah disiksa
dengan sangat berat.
Sadar kondisi tidak terkendali, Akhirnya Nabi Musa as
bersama-sama orang yang beriman pergi keluar dari
Mesir. Tapi Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa
hingga ke laut merah.
Disitulah, datang mukjizat Allah lainnya kepada Nabi
Musa. Dengan kebesaran dan izin-Nya, Allah
memerintahkan Musa untuk membelah lautan dengan
tongkatnya demi menghindari kejaran Fir’aun.
Subhanallah, laut pun berubah menjadi jalan besar dan
membelah menjadi dua untuk dilalui Nabi Musa as
bersama para pengikutnya.
Beruntung bagi Musa sial untuk Fir’aun. Ketika Fir’aun
dengan bala tentaranya mengejar dari belakang dan
ketika mereka sampai di pertengahan laut, dengan
kekuasaan Allah air laut pun kembali menjadi satu.
Fir’aun bersama pasukannya ditenggelamkan oleh Allah
hinga akhirnya semua tewas.
“Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka,
lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan
mereka.” (Qs. 20 : 78)
Riwayat Nabi Musa Menampar Malaikat
Riwayat ini menceritakan saat Malaikat Maut yang
menyamar sebagai manusia ingin mencabut nyawa Nabi
Musa. Namun ketika ingin dicabut nyawanya, Nabi Musa
malah menampar Malaikat yang mengakibatkan kedua
matanya menjadi buta.
Kisah ini diceritakan dari kitab karya Imam Bukhari
tentang kisah akan wafatnya Nabi Musa. Diceritakan
bahwa pada suatu masa Malaikat Maut mendatangi Nabi
Musa.
“Wahai Nabi Alllah, penuhilah panggilan Rabb-Mu,” kata
Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia.
Ketika mendengar perkataan tersebut, Nabi Musa tiba-
tiba saja menampar malaikat Maut itu hingga kedua
matanya buta. Malaikat Maut itu kebingungan dan
akhirnya kembali lagi menghadap kepada Allah SWT.
“Ya Allah, Engkau telah mengutusku kepada seorang
hamba yang tidak menginginkan kematian,” kata
Malaikat.
Setelah kejadian itu, kemudian Allah SWT
mengembalikan penglihatan malaikat tersebut dan
menyuruhnya untuk kembali menemui Nabi Musa.
Dengan perantaraan malaikat tersebut, Allah SWT
memberi syarat kepada Nabinya tersebut apabila ingin
menunda kematian.
“Wahai Nabi Allah, Allah SWT telah menyuruhku agar
menyampaikan berita ini. Kalau engkau ingin menunda
kematian, maka engkau harus meletakkan tanganmu di
punggung sapi jantan, kemudian sejumlah bulu yang
tertutupi tangan itu engkau akan diperpanjang umurnya
selama 1 tahun,” kata Malaikat Maut.
“Wahai malaikat, kemudian apa setelah hitungan itu?”
tanya Nabi Musa as.
“Kemudian kematian,” jawab malaikat.
Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa as memilih untuk
tidak menunda kematian.
“Maka sekarang saja kematianku datang tanpa diundur
lagi,” ujar Nabi Musa.
Selanjutnya Nabi Musa as berdoa kepada Allah SWT
untuk mendekatkan dirinya kepada Tanah Suci (Baitul
Maqdis) sejarak lemparan batu. Di tempat itulah Nabi
Musa as meninggal dunia dengan tenang.
Sumber : http://republikpos.com/2016/01/kisah-lengkap-nabi-musa
0 on: "Kisah Perjalanan Hidup Nabi Musa As."