Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Translate

Popular Post

Blogger templates

Followers

Saturday, 4 February 2017

Kisah Perjalanan Hidup Nabi Musa As.



Nabi Musa bin Imron bin


Qahat bin Lawi bin Ya’qub beribukan Yukhabad. Beliau


manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan


bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun


mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah


kepada Nabi Ibrahim AS, yaitu tanah Kanaan. Ia diangkat


menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM.


Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara


dengan Allah). Musa merupakan figur yang paling sering


disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta


termasuk golongan Ulul Azmi.


Nabi Musa harus melewati berbagai macam rintangan


sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai


orang yang diutus oleh Allah untuk membebaskan kaum


Bani Israel. Misalnya, hampir dibunuh ketika ia masih


bayi, dikejar-kejar oleh Fira’un, sampai harus menjalani


hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.


Nabi Musa as merupakan anak laki-laki Imron bin Yash-


har, dan bersaudara dengan Nabi Harun as serta Miryam.


Nabi Musa dilahirkan pada waktu zaman raja yang sangat


zalim yaitu Fir’aun sebagai penguasa Mesir dan disembah


oleh orang-orang Mesir.


Hingga tibalah suatu masa kaum Bani Israel semakin


banyak dan semakin menyebar. Raja Fir’aun yang kafir,


bengis dan menganggap dirinya Tuhan itu melihat bahwa


Bani Israel semakin banyak dan semakin berkembang.


Pada suatu malam, Fir’aun bermimpi bahwa mahkota


yang dipakainya hilang. Untuk mengartikan mimpi


tersebut, Fir’aun memanggil ahli ramalnya. Berdasarkan


ramalan, mimpi itu disebut merupakan pertanda bahwa


pada suatu masa kekuasaan raja akan terancam oleh


seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi akan dilahirkan.


Mendengar arti mimpi tersebut, Fir’aun kemudian


memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua


bayi laki-laki yang lahir di negerinya.


Namun para penasehat dan pakar ekonomi kerajaan


berkata kepada Fir’aun; Orang-orang tua dari Bani Israel


akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak


kecil disembelih, maka ini akan berakhir pada hancurnya


dan binasanya Bani Israil. Tetapi Firaun akan kehilangan


kekayaan dan asset manusia yang dapat bekerja


untuknya atau menjadi budak-budaknya serta wanita-


wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik


adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai


berikut: anak laki-laki disembelih pada tahun pertama,


dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya.


Fir’aun pun setuju dengan pendapat itu, karena


mengganggap pemikiran itu lebih menguntungkan dari


sisi ekonomi.


Ketika ibu Nabi Musa mengandung nabi Harun, aturan itu


belum dilaksanakan dimana anak-anak kecil laki-laki


tidak dibunuh dan para ibu bisa melahirkan dengan


terang-terangan. Namun ketika melahirkan mengandung


Nabi Musa, ia berada di tahun dimana anak-anak kecil


harus dibunuh. Sang ibu pun merasa sangat cemas dan


ketahukan yang luar biasa. Ia takut bahwa jangan-jangan


anak yang kelak dilahirkannya akan iktu dibunuh. Ia pun


melahirkan Nabi Musa secara diam-diam. Dan untuk


menyembunyikan bayinya, sang ibu pun menyusui secara


sembunyi-sembunyi. Lalu tibalah suatu malah yang


penuh berkah, dimana saat itu Allah Yang Maha


Mengetahui memberi wahyu kepadanya, sebagai berikut:


“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia dan


apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah


dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan


janganlah (pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya


kami akan mengembalikannya kepadamu, dan


menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Qs 28 :


7)


Mendengar wahyu Allah dan panggilan yang penuh kasih


sayang serta suci itu, ibu Nabi Musa langsung


mentaatinya. Lalu ia membuat peti kecil untuk Nabi Musa


as. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di di dalam


peti. Kemudian ia berangkat ke tepi sungai Nil lalu


menghanyutkan bayinya di atas air. Ibu mana yang tega


membuang anak yang dilahirkannya, hatinya penuh


derita ketika ia melempar anaknya di sungai Nil. Namun,


semua itu ia lakukan karena merupakan perintah dari


Allah.


Beberapa saat setelah hanyut di sungai Nil, Allah


memerintahkan arus sungai Nil agar menjadi tenang dan


mengalir lembut demi bayi yang dibawanya yang kelak


akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa


memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan


membawa keselamatan bagi nabi Ibrahim as, begitu juga


Allah memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa


Nabi Musa dengan tenang dan penuh kelembutan


sehingga mengarahkannya ke istana raja Fir’aun. Lalu,


air sungai Nil tersebut membawa peti yang berisi Nabi


Musa menuju arah istana raja fir’aun.


Setelah sampai di tepi dekat istana, bayi Nabi Musa ini


ditemukan oleh istri Fir’aun yang kebetulan keluar untuk


berjalan-jalan di kebun istana. Istri raja Fir’aun tidak


sama dengan Fir’aun. Wanita itu memiliki sifat yang amat


baik dan lembut. Namun wanita itu merasakan kesedihan


yang dalam karena ia belum mampu melahirkan anak. Ia


ingin sekali memiliki anak. Ketika ia melihat Musa yang


hanyut, maka muncullah keinginan untuk merawat bayi


tersebut.


Setelah menemukan bayi itu, istri Fir’aun pun


membawanya pulang ke istana. Ia menggendong nabi


Musa yang sedari tadi menangis karena kelaparan. Di saat


yang sama Fir’aun sedang duduk di atas meja makan dan


ia menunggu istrinya yang tak kunjung datang hingga


mulai marah lalu mencarinya.


Tiba-tiba Fir’aun terkejut saat melihat isterinya


menggendong seorang bayi. Kemudian Fir’aun bertanya:


“Dari mana datangnya anak kecil ini?” Kemudian sang


istri menceritakan bahwa ia menemukannya di sebuah


peti di tepi sungai dan memerintah prajurit


menyelematkan bayi hanyut itu. Fir’aun berkata: “Ini


adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan


peraturan, anak-anak yang lahir di tahun ini harus


dibunuh”. Mendengar perkataan dari Fir’aun itu, ia


menangis. Ia memeluk Nabi Musa dengan erat dan


memohon agar kali ini keinginannya merawat bayi itu


dikabulkan.


Seperti yang tertulis dalam Al Qur’an:


“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk


mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu


membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada


kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tidak


menyadarinya.” (Qs. 28:9)


Fir’aun tampak kebingungan melihat tingkah isterinya


yang begitu melindungi bayi yang ia temukan. Fir’aun


tampak tak percaya dimana ia tidak pernah mendapati


isterinya menangis karena sekhawatir dicampur rasa


bahagia. Fir’aun mulai luluh karena menyadari bahwa


istrinya menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri,


apalagi pernikahan mereka belum mendapatkan


keturunan.


Kisah Nabi Musa Bertemu Ibu Kandungnya


Istri Fir’aun tampak bahagia setelah keputusan yang


diambil oleh suaminya. Namun karena bukan ibu


kandung, ia mulai mendapat masalah lantaran Musa


mulai kelaparan dan membutuhkan susu. Kemudian


Fir’aun berkata: “Datangkanlah kepadanya wanita yang


menyusui dari istana”. Sayang, dari kesemua wanita


yang dipanggil, bayi Musa selalu menolak untuk disusui.


Melihat hal tersebut, istiri Firaun makin sedih dan


menangis karena tidak tahan melihat penderitaan bayi


yang baru ditemukannya itu. Ia dilanda kekalutan dan


kebingungan apa yang harus dilakukannya.


Tibalah saat ibu kandung Musa merindukan anaknya yang


ia buang ke sungai Nil. Ia juga mendengar kabar bahwa


ada bayi laki-laki yang ditemukan pihak kerajaan dan


dipelihara oleh permaisuri kerajaan.


Allah SWT menaruh kedamaian dalam hatinya: “Pergilah


dengan tenang ke istana firaun dan berusahalah untuk


mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau


hati-hati agar jangan sampai mereka mengetahuimu.”


Didorong rasa rindu, ia lalu berusaha pergi ke istana


Fir’aun untuk mendapatkan berita tentang bayinya.


Kemudian ia pergi dengan tenang. Ia bisa melihat nabi


Musa dari kejauhan dan mendengarkan suara


tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan


kebingungan lantaran mereka tidak mengetahui


bagaimana menyusuinya.


Ibu Nabi Musa mendekati para pengawal istana dan


menawarkan diri supaya diberi kesempatan untuk


membawa seseorang yang bisa menyusui bayi itu.


Disampaikanlah ke istri Fir’aun dan ia menjawab kalau


orang itu bisa maka ia akan memberi imbalan yang sangat


besar.


Maka si ibu yang sebetulnya adalah ibu kandung Musa


akhirnya menyusuinya dan Nabi Musa mulai tenang.


Melihat hal itu, istri Fir’aun sangat gembira dan


menyuruh ibu tersebut membawa Musa ketempatnya


hingga waktu menyusuinya selesai. Istri Fir’aun


berpesan, jika sudah selesai, ia meminta Musa untuk


segera dikembalikan ke istana. Itulah cara Allah Yang


Maha Adil dan Maha Kuasa mengembalikan Nabi Musa ke


dekapan ibunya.



“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya


hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa,


seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia


termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).


Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang


perempuan, “Ikutilah dia”. Maka terlihatlah olehnya


Musah dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,


dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-


perempuan yhang mau menyusui-nya sebelum itu; maka


berkatalah saudara Musa: “Maikah kamu Aku tunjukkan


kepadamu Ahlubait yang akan memeliharanya untukmu


dan mereka dapat berlaku baik kepadanya. Maka Kami


kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya


dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui janji


Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia tidak


mengetahuinya.” (Qs. 28 : 10 – 13)


Setelah proses menyusui selesai, Musa dikembalikan lagi


ke istana. Nabi Musa tumbuh dan dididik di istana


termegah itu di bawah bimbingan dan penjagaan Allah


SWT. Pendidikan Nabi Musa dimulai di rumah Fir’aun di


mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para


pengajar. Mesir saat itu merupakan negeri yang besar di


dunia dan Fir’aun sebagai raja yang paling kuat. Karena


itu dengan mudah Fir’aun mampu mengumpulkan para


pakar pendidikan dan para cendekiawan.


Nabi Musa tumbuh di istana Fir’aun. Beliau mempelajari


ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia dan bahasa.


Beliau juga dalam bimbingan agama yang benar sehingga


ia menepis semua anggapan jika Fir’aun itu Tuhan.


Hingga suatu ketika tiba waktu Nabi Musa juga


mengetahui bahwa sebenarnya ia bukanlah anak kandung


Fir’aun.


Singkat kisah, ada suatu masa kejadian dimana Musa


sempat membunuh seseorang. Kejadiannya terjadi saat


Musa melepaskan diri dari pengawal dan pergi ke kota.


Nabi Musa melihat perkelahian dan berniat untuk melerai


kedua orang yang berkelahi itu. Namun tanpa disengaja,


Musa malah membunuhnya. Kemudian nabi Musa berdoa


kepada Allah dan berkata:


“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku


maka ampunilah aku.”


Allah yang maha pengampun mengampuninya. Peristiwa


ini dikisahkan dalam Alquran:


Allah berfirman: “Dan setelah Musa sudah cukup umur


dan sempurna akalnya. Kami berikan kepadanya hikmah


kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah kami


memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya


sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu dua


orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari


golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya


(kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya


meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang


yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah


musuhnya itu.


Musa berkata: “Ini adalah perbuatan setan.


Sesungguhnya setan adalah musuh yang menyesatkan


lagi (permusuhannya). Musa berdoa: “Ya Tuhanku,


sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri


karena itu ampunilah aku.”


Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya dialah Yang


Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.


Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang engkau


anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan


menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”


Nabi Musa adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim. Kedua


dari kalangan Ulul Azmi. Tetapi Nabi Ibrahim merupakan


cermin kesabaran dan kelebutan sementara itu Nabi


Musa merupakan cermin dari kekuatan dan keperkasaan.


Mukjizat Nabi Musa


Nabi Musa menikahi anak gadis Nabi Syu’aib bernama


Shafura. Dari sinilah berawal turunnya wahyu dan


mukjizat Allah SWT kepadanya.



Dalam pernikahan tersebut terdapat sebuah perjanjian


yang mengharuskan Nabi Musa bekerja untuk Nabi


Syu’aib selama 10 tahun. Ternyata, sepuluh tahun waktu


yang dihabiskan oleh Nabi Musa bekerja untuk Nabi


Syu’aib di Madyan merupakan suatu ketentuan yang


dirancang oleh Allah SWT. Karena sebelum datangnya


wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, dari


situlah Nabi Musa memperkuat diri untuk menerima wayu


yang datang langsung dari Allah tanpa perantara


seorang malaikat.


Pada akhirnya, datang waktu Musa memutuskan kembali


ke Mesir. Meski tahu berbahaya bagi keselamatan dirinya


dan istrinya, Musa tetap memutuskan melakukan


perjalanan.


Musa mulai mendapatkan kesulitan karena sempat


tersesat. Tapi karena tersesatnya itu, ia melihat sebuah


api. Lalu ia berfikir ingin mendapatkannya untuk


dijadikan obor penerang jalan. Musa meninggalkan


istrinya sebentar untuk mendapatkan api itu. Namun


tiba-tiba saja, Musa mendengar sebuah suara dari api


tersebut yang ternyata wahyu dari Allah SWT.


“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia:


‘bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat


api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan


maha suci Allah, Tuhan semesta alam’. (Qs. 27 : 8)


Lalu Allah berfirman kepadanya: Sesungguhnya aku


inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu


(sendal), sesungguhnya kamu berada di lembah yang


suci, Thuwa’ (Qs. 20 : 12). Lembah tempat Nabi Musa as


berdiri adalah lembah Thuwa’. Nabi Musa as meletakkan


kedua tangannya di atas kedua matanya karena saking


dahsyatnya cahaya. Nabi Musa as ruku’ dan melepas


kedua sandalnya, kemudian Allah SWT kembali berkata:


“Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa


yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya aku


ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku,


maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk


mengingat aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan


datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap


tipa dari itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka


sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh


orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang


mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu


binasa. “(Qs. 20 : 13 – 16)


Allah bertanya tentang apa yang dipegang oleh Musa


(Tongkat) dan menyuruhnya untuk melemparkan benda


tersebut ke tanah. Dengan kebesaran Allah, tongkat itu


berubah menjadi ular. Tongkat ini jugalah awal dimana


Allah menyerukan Nabi Musa untuk menemui Fir’aun.


Inilah mukjizat pertama Allah kepada Musa As.


“Dan lemparkanlah tongkatmu,” maka tatkala (tongkat


itu menjadi luar) dan Musa melihatnya bergerak-gerak


seperti seekor ular yang gesit. Larilah ia berbalik ke


belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu


takut, sesungguhnya orang menjadi rasul, tidak takut di


hadapanku.” (Qs 27 :10)


Kemudian Allah SWT memerintahkannya untuk pergi


menemui Firaun dan berdakwah kepadanya. Dengan


adanya ketakutan, Nabi Musa berdoa kepada Allah agar


diberi kemudahan dan kekuatan.


Dalam melaksanakan dakwahnya. Allah pun menjamin


keselamatan utusannya dengan berjanji tidak ada


seorang pun yang bisa menyakiti Musa.


Allah SWT berfirman:


“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (firaun) dan


katakanlah : “sesungguhnya kami berdua adalah utusan


Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami


dan janganlah kamu menyiksa mereka.” (Qs. 20 : 47)


Berdua disini maksudnya bersama Nabi Harun. Ya,


seperti diceritakan dalam kisah Nabi Harun, Nabi Musa


memang secara khusus meminta kepada Allah SWT agar


saudaranya Harun diangkat menjadi Nabi untuk


membantunya berdakwah karena keunggulannya fasih


dalam berbicara/berdakwah.


Maka dari itu, Nabi Musa menjelasakan kepada Fir’aun


tentang siapa sebenarnya Allah SWT, tentang Rahmat-


Nya, tentang surga-Nya, dan tentang kewajiban


mengesankan-Nya dan menyembah-Nya. Namun Fir’aun


malah mengejek Musa dan berkata bahwa nabi Musa as


adalah tukang sihir.


Lalu Fir’aun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya


untuk bertanding melawan Nabi Musa as di suatu area


yang telah ditentukan waktu dan tempatnya. Di antara


mereka ada yang melemparkan tali, tongkat, maka


berubahlah tongkat dan tali itu menjadi ular yang


menjalar. Lalu nabi Musa merasa takut, karena telah


dikelilingi ular-ular yang berbisa.



Lalu Allah memerintahkan kepada Musa dengan


firmanNya:


“Lemparkanlah tongkat yang di tangan kananmu, nanti


berubah menjadi ular yang besar yang akan menelan


segala perbuatan mereka itu, sesungguhna kerja mereka


itu adalah tipu daya tukang sihir saja dan sekali-kali


tidaklah akan menang tukang sihir itu, bagaimanapun


juga.”


Akhirnya, semua ahli sihir termasuk istri Fir’aun, Siti


Aisah tunduk kepada Nabi Musa. Karena melihat tukang


sihirnya dan istrinya telah beriman kepada Nabi Musa,


Fir’aun dirasuki amarah yang begitu besar sehingga


isterinya disiksa hingga meninggal, demikian juga


orang-orang yang iktu beriman kepada Allah disiksa


dengan sangat berat.


Sadar kondisi tidak terkendali, Akhirnya Nabi Musa as


bersama-sama orang yang beriman pergi keluar dari


Mesir. Tapi Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa


hingga ke laut merah.


Disitulah, datang mukjizat Allah lainnya kepada Nabi


Musa. Dengan kebesaran dan izin-Nya, Allah


memerintahkan Musa untuk membelah lautan dengan


tongkatnya demi menghindari kejaran Fir’aun.


Subhanallah, laut pun berubah menjadi jalan besar dan


membelah menjadi dua untuk dilalui Nabi Musa as


bersama para pengikutnya.


Beruntung bagi Musa sial untuk Fir’aun. Ketika Fir’aun


dengan bala tentaranya mengejar dari belakang dan


ketika mereka sampai di pertengahan laut, dengan


kekuasaan Allah air laut pun kembali menjadi satu.


Fir’aun bersama pasukannya ditenggelamkan oleh Allah


hinga akhirnya semua tewas.


“Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka,


lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan


mereka.” (Qs. 20 : 78)


Riwayat Nabi Musa Menampar Malaikat


Riwayat ini menceritakan saat Malaikat Maut yang


menyamar sebagai manusia ingin mencabut nyawa Nabi


Musa. Namun ketika ingin dicabut nyawanya, Nabi Musa


malah menampar Malaikat yang mengakibatkan kedua


matanya menjadi buta.


Kisah ini diceritakan dari kitab karya Imam Bukhari


tentang kisah akan wafatnya Nabi Musa. Diceritakan


bahwa pada suatu masa Malaikat Maut mendatangi Nabi


Musa.


“Wahai Nabi Alllah, penuhilah panggilan Rabb-Mu,” kata


Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia.


Ketika mendengar perkataan tersebut, Nabi Musa tiba-


tiba saja menampar malaikat Maut itu hingga kedua


matanya buta. Malaikat Maut itu kebingungan dan


akhirnya kembali lagi menghadap kepada Allah SWT.


“Ya Allah, Engkau telah mengutusku kepada seorang


hamba yang tidak menginginkan kematian,” kata


Malaikat.


Setelah kejadian itu, kemudian Allah SWT


mengembalikan penglihatan malaikat tersebut dan


menyuruhnya untuk kembali menemui Nabi Musa.


Dengan perantaraan malaikat tersebut, Allah SWT


memberi syarat kepada Nabinya tersebut apabila ingin


menunda kematian.


“Wahai Nabi Allah, Allah SWT telah menyuruhku agar


menyampaikan berita ini. Kalau engkau ingin menunda


kematian, maka engkau harus meletakkan tanganmu di


punggung sapi jantan, kemudian sejumlah bulu yang


tertutupi tangan itu engkau akan diperpanjang umurnya


selama 1 tahun,” kata Malaikat Maut.


“Wahai malaikat, kemudian apa setelah hitungan itu?”


tanya Nabi Musa as.


“Kemudian kematian,” jawab malaikat.


Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa as memilih untuk


tidak menunda kematian.


“Maka sekarang saja kematianku datang tanpa diundur


lagi,” ujar Nabi Musa.


Selanjutnya Nabi Musa as berdoa kepada Allah SWT


untuk mendekatkan dirinya kepada Tanah Suci (Baitul


Maqdis) sejarak lemparan batu. Di tempat itulah Nabi


Musa as meninggal dunia dengan tenang.

Sumber : http://republikpos.com/2016/01/kisah-lengkap-nabi-musa

0 on: "Kisah Perjalanan Hidup Nabi Musa As."