Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Translate

Popular Post

Blogger templates

Followers

Saturday, 4 February 2017

Kisah Perjalanan Hidup Nabi Yusuf

Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya yaitu dapat menafsirkan mimpi. Sejarah Nabi yusuf sangat berliku penuh cobaan dan rintangan, namun justru hal itulah yang membuat Cerita Nabi yusuf AS menjadi sangat menarik untuk disimak.

Nabi Yusuf adalah anak ketujuh dari dua belas anak Nabi Yaqub. Ibunya bernama Rahiel. Yusuf lahir di Palestina. Ibunya wafat saat Yusuf berusia dua belas tahun. Nabi Yusuf berdakwah di wilayah Mesir. Yusuf dipercaya menjadi pejabat kerajaan untuk menangani bencana kekeringan selama tujuh tahun yang diketahuinya dari tafsir mimpi raja. Yusuf wafat di Nablus (Palestine)

Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya Menafsirkan Mimpi
Pada suatu malam, Yusuf bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud di hadapannya. la begitu terkesan dengan mimpinya.

Keesokan harinya, Yusuf mendatangi ayahnya. la menceritakan mimpinya semalam. "Wahai ayahku. sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Kulihat semuanya bersujud kepadaku."

Mendengar hal ini, Nabi Yaqub begitu gembira. Yaqub tahu bahwa mimpi anaknya tersebut bukan sebuah mimpi biasa. Itu adalah sebuah tanda bahwa suatu hari nanti Yusuf akan menjadi seorang yang dimuliakan oleh Allah dan manusia. Rasa sayang dan cinta Nabi Yaqub terhadap Yusuf pun semakin besar. Akan tetapi, ia khawatir jika saudara-saudara Yusuf mengetahui mimpi itu. Nabi Yaqub pun berkata, "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu. Ayah khawatir jika mereka mengetahui hal tersebut, mereka akan mencelakakanmu."
Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya

Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya

Rasa sayang dan cinta yang ditunjukkan oleh Nabi Yaqub kepada Yusuf ternyata telah menimbulkan kebencian saudara-saudaranya. Mereka iri dan dengki. Mereka merasa Yusuf lebih dicintai daripada mereka. Adik Nabi Yusuf yang bernama Bunyamin pun ikut dibenci karena dianggap telah mendapatkan kasih sayang yang sama seperti Yusuf.

Dalam sebuah pertemuan rahasia, saudara-saudara Yusuf yang iri hati berkumpul untuk membuat sebuah rencana keji. Salah satu dari mereka berkata, "Sesungguhnya Yusuf dan Bunyamin lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita ini adalah anak dari ayah kita juga. Ayah kita rupanya telah keliru dalam hal ini."

"Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah yang tidak dikenal supaya perhatian ayah kita tertumpah kepada kita semua," ujar salah satu saudara Yusuf.

Yahuda, anak keempat Nabi Yaqub, tampaknya tidak sependapat. la berkata, "Janganlah kalian membunuh Yusuf, tapi masukkanlah dia ke dalam sumur yang sering dilewati dan dijadikan tempat peristirahan para musafir. Dengan demikian, jika nanti para musafir itu menemukannya, mereka membawanya jauh dari kita. Mungkin nanti Yusuf akan dijual sebagai budak. Setelah itu, kita bertobat kepada Allah atas dosa-dosa kita dan menjadi orang yang senantiasa berbuat baik."

Akhirnya, mereka semua setuju dengan pendapat Yahuda. Kemudian, mereka merencanakan cara membawa Yusuf tanpa ada keberatan dari ayahnya yang selalu khawatir dengan keselamatan Yusuf.

Keesokkan harinya, saudara-saudara Yusuf meminta izin kepada Nabi Yaqub untuk mengajak Yusuf bermain ke tepi hutan untuk menikmati pemandangan. Pada awalnya, Nabi Yaqub ragu-ragu memberi izin. Akan tetapi, setelah didesak oleh saudara-saudara Yusuf, akhirnya Nabi Yaqub mengizinkan dengan memberi pesan kepada mereka agar berhati-hati dan menjaga adiknya tersebut.

Esoknya, berangkatlah rombongan putra Yaqub, kecuali Bunyamin karena masih terlalu kecil. Mereka menuju ke tempat sesuai dengan rencana mereka kemarin. Setibanya di tempat tersebut, mereka bermain kejar-kejaran. Pada saat bermain, mereka sedikit demi sedikit melepaskan baju Yusuf. Yusuf tidak menyadari apa maksud saudara-saudaranya tersebut. la hanya mengikutinya saja. Mereka berkejar-kejaran hingga sampai di dekat sebuah sumur. Tempat tersebut ada di hutan yang biasa dilalui oleh para musafir.
Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS

Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS

Dengan cepat, mereka mengangkat Yusuf dan hendak melemparkannya ke dalam sumur. Yusuf meronta dan berusaha melepaskan diri. Akan tetapi, cengkeraman saudara-saudaranya lebih kuat. Akhirnya, perlawanan Yusuf sia-sia saja. Mereka berhasil melemparkan Yusuf ke dalam sumur tersebut.

Sore harinya, mereka datang kepada ayah mereka sambil menangis. Mereka berkata, "Ayah, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."

Mereka datang membawa baju Yusuf yang berlumuran dengan darah palsu. Dengan sedih Yaqub berkata, "Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku. Dan hanya kepada Allah memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Kemudian, datanglah kelompok orang-orang musafir. Seorang di antaranya mengambil air. la menurunkan timbanya dan berkata, "Oh, kabar gembira, ada seorang anak muda!" Mereka lalu menyelamatkan Yusuf dan menyembunyikannya sebagai barang dagangan.

Akhirnya, mereka sepakat untuk menjual anak temuan itu kepada salah seorang menteri di negeri Mesir yang bernama Qitfir Al Aziz. Karena Yesuf adalah anak temuan mereka takut pemilikinya akan mengambilnya. Oleh karena itu, mereka tergesa-gesa menjualnya dengan harga yang murah.

Qitfir membeli Yusuf untuk membantu istrinya, Zulaikha, dalam mengurus kebutuhan rumah tangganya. Qitfir berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, berikanlah dia tempat yang baik, rnungkin dia akan sangat bermanfaat bagi kita, atau jika engkau menginginkannya, kita bisa mengangkatnya sebagai anak."

Sejak itu, Yusuf tinggal di rumah Qitfir dan istrinya yang bernama Zulaikha. Yusuf bekerja dengan baik, cekatan, dan jujur. Oleh karena itu, ia diperlakukan sangat baik. Bertahun-tahun, Yusuf tinggal di rumah tersebut. Yusuf tumbuh dewasa. la menjadi pemuda gagah dan tampan. Allah pun memberikan ilmu yang cukup luas kepada Yusuf.

Awalnya, Zulaikha menaruh simpati kepada Yusuf karena kebaikan dan ketangkasan Yusuf dalam bekerja. Ketika Yusuf dewasa, rasa simpati itu berubah menjadi cinta. Zulaikha terpikat oleh kepribadian dan ketampanan Yusuf.

Ketika suaminya pergi ke luar kota, Zulaikha kemudian memanggil Yusuf ke kamarnya. la menggoda Yusuf. Sambil menutup pintu, ia berkata, "Marilah ke sini." Akan tetapi, Yusuf menolak dan hendak berlari ke luar kamar. Zulaikha menarik baju Yusuf dari belakang. Ketika Yusuf membuka pintu kamar, tiba-tiba muncul Qitfir. Zulaikha merasa cemas dan ketakutan. Untuk membela dirinya. Zulaikha menuduh Yusuf telah berbuat buruk kepadanya.

Yusuf sangat terkejut mendengar tuduhan tersebut. la berusaha menjelaskan kepada Qitfir bahwa dia tidak bersalah. Zulaikhalah yang memaksanya. Akhirnya, terjadilah tuduh-menuduh di antara keduanya.
Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya Menafsirkan Mimpi

Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya Menafsirkan Mimpi

Mendengar pengakuan keduanya, Qitfir menjadi bingung. Oleh karena itu, ia bertanya kepada saudara Zulaikha yang terkenal jujur dan bijak. Saudara Zulaikha berkata, "Jika baju yang dikenakan Yusuf sobek di bagian depan, istrimu benar. Namun, jika baju Yusuf sobek di bagian belakang, Yusuflah yang benar."

Qitfir lalu menoleh ke arah Yusuf. la melihat baju Yusuf robek bagian belakang. Itu berarti istrinya yang bohong. Hal ini membuatnya sangat kecewa pada istrinya

Peristtwa tersebut membuat Qitfir merasa khawatir jika banyak orang tahu hal memalukan itu, Oleh karena itu, Qitfir berpesan kepada Yusuf, “Aku mohon kepadarnu agar apa yang telah terjadl tidak engkau ceritakan kepada siapa pun." Kemudian, Qitfir berkata pula kepada Zulaikh," Dan engkau istriku, mohon ampunlah atas dosa yang telah engkau lakukan."

Walaupun berusaha untuk dirahasiakan, peristiwa itu tersebar juga. Zulaikha menjadi bahan gunjingan di kalangan istri pejabat Mesir. Hal ini tentu saja membuat perasaan Zulaikha resah meskipun la memang bersalah.

Zulaikha kemudian mengundang wanita-wanita yang menggunjingkannya. la menyediakan tempat duduk bagi mereka. Zulaikha memberikan sebuah pisau untuk memotong jamuan buah-buahan kepada setiap wanita yang datang.

Ketika para tamu sedang memotong buah, Zulaikha memanggil Yusuf, "Keluarlah, tampakkanlah dirimu kepada mereka." Wanita-wanita itu melihat Yusuf. Mereka kagum kepada ketampanan Yusuf. Tanpa mereka sadari. wanita-wanita itu melukai jari tangannya dan berkata, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya, ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."

Zulaikha berkata, "Itulah orang yang kamu cela karena aku tertarik kepadanya. Sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya kepadaku, tetapi dia menolak. Sesungguhnya, jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."

Peristiwa yang dialami Yusuf ternyata sangat mengkhawatirkan dirinya. Yusuf merasa takut dengan sikap yang diperlihatkan Zulaikha dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam doanya Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika tidak Engkau hindarkan segala tipu daya mereka atas diriku, aku takut aku tidak mampu menghindari ajakan mereka sehingga aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Doa Yusuf dikabulkan Allah. Setelah peristiwa memalukan itu, hati Qitfir menjadi tidak tenang. la menyadari bahwa istrinya bersalah. Akan tetapi, untuk menjaga nama baiknya, ia berniat memisahkan Yusuf dengan Zulaikha dengan cara memenjarakan Yusuf. Qitfir menyusun rencana agar Yusuf di adili dan diputuskan bersalah oleh pangadilan. Akhirnya, Yusuf pun dimasukkan dalam penjara.

Yusuf berusaha sabar dan tawakal menghadapi ujian ini. la berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan dan ketabahan. Di sisi lain. Yusuf bersyukur masuk penjara karena ia jauh dari godaan Zulaikha. la dapat hidup tenang. Yusuf diangkat menjadi nabi oleh Allah setelah menerima beberapa ujian dan cobaan. la diberikan mukjizat, salah satunya adalah dapat menafsirkan mimpi.

Allah memberi Nabi Yusuf tugas untuk menyeru kepada manusia agar menegakkan keadilan, melawan kezaliman, mengendalikan nafsu, dan sating mengasihi kepada sesama.

Nabi Yusuf memulai tugasnya berdakwah kepada para penghuni penjara. Di antara mereka, ada dua orang pegawai istana raja Mesir yang dipenjara karena tuduhan menentang raja. Ketika bertemu Nabi Yusuf, keduanya menceritakan tentang mimpi yang dialami. Orang yang pertama berkata, "Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur." Sementara itu, orang yang kedua berkata pula, "Sesungguhnya aku bermimpi membawa roti di atas kepala, kemudian muncul burung gagak dan mematuki roti-roti tersebut. Kami mohon kepadamu agar engkau manafsirkan arti mimpi kami karena kami yakin engkau adalah orang yang mampu melakukannya."

Yusuf menjelaskan kepada pelayan pertama, "Wahai Saudaraku, sesungguhnya engkau akan dibebaskan dan dipekerjakan kembali oleh sang raja. Sementara kepada pelayan yang kedua, ia menjelaskan, "Dan engkau Saudaraku, sebelumnya aku mohon agar engkau tabah karena mimpimu memberitahukan kepadaku bahwa engkau akan menerima hukuman mati."

Beberapa hari kemudian tafsir Yusuf tersebut terbukti. Sebelum berpisah dengan keduanya. Yusuf berpesan kepada pelayan pertama agar ia menyampaikan tentang kemampuan yang dimiliki Yusuf kepada raja.

Akan tetapi, orang tersebut lupa dengan pesan Nabi Yusuf karena setan telah membuatnya lupa.

Sejak saat itu, Yusuf banyak didatangi orang untuk menafsirakan mimpi mereka. Nabi Yusuf pun menggunakan kelebihan yang dimilikinya itu sebagai sarana untuk berdakwah. Orang-orang pun percaya Yusuf sebagai nabi dan mengikuti dakwahnya.

Pada suatu hari, raja Mesir bermimpi aneh. Mimpi itu terjadi berulang-ulang. la mengumpulkan seluruh juru ramal istana. la menanyakan arti mimpinya tersebut. Raja berkata, "Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang arti mirnpiku itu jika kamu dapat menafsirkan mimpi." Para juru ramal yang diundang mulai berpikir. Akan tetapi, seluruh juru ramal tidak ada yang mampu manafsirkan mimpi tersebut.

Sang raja kecewa. la resah dengan mimpi yang dialaminya tersebut. Pada saat itulah, pelayan raja yang mimpinya pernah ditafsirkan oleh Nabi Yusuf teringat kepada Yusuf. la berkata kepada sang raja, "Baginda, saya ingat ketika saya di penjara, ada seorang yang mampu menafsirkan mimpi dengan tepat. Hal itu telah terbukti kebenarannya. Izinkan hamba menemuinya." Akhirnya, raja berkenan mengizinkan pelayan tersebut untuk menemui Yusuf.

Kemudian, pelayan raja itu menemui Yusuf. la menceritakan mimpi sang raja, "Hai Yusuf, sesungguhnya raja kami bermimpi dan tidak ada seorang pun yang mampu menafsirkannya. Oleh karena itu, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."

Yusuf berkata, "Sahabatku, tafsir mimpi memberitahukan bahwa negeri Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun, tetapi kemudian negeri Mesir akan mengalami kemarau panjang selama tujuh tahun pula."

Pelayan itu berkata,"Sungguh situasi yang berat. Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah tersebut"

Nabi Yusut berkata, "Simpanlah hasil gandum kalian di waktu rnusim subur sebagai bekal untuk bertahan di muslin kemarau yang panjang."

Setelah selesai berdialog, pelayan tersebut berterima kasih dan mohon pamit. la segera menyampaikan tafsir mimpi yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf kepada sang raja.

Mendengar penjelasan itu raja sangat senang. Sebagai balasannya, raja memerintahkan pengawalnya agar membebaskan Nabi Yusuf.

Yusuf mendapat kabar bahwa raja akan membebaskannya. Akan tetapi, ia menolak dibebaskan sebelum perkaranya disidangkan dan ia diputuskan tidak bersalah.

Kemudian, sang raja kembali mengangkat permasalahan Yusuf. la mencoba untuk mencari kebenarannya. Semua orang yang terlibat dalam masalah tersebut dipanggil dan dimintai kesaksiannya atas peristiwa yang menimpa Yusuf.

Pada saat itulah. Zulaikha memberikan kesaksiannya. la mengakui kesalahannya. Pengakuan Zulaikha menjadi bukti bahwa Yusuf memang tidak bersalah.

Akhirnya, Yusuf diputus tidak bersalah oleh raja. la dibebaskan. Yusuf berkata, "Yang demikian itu agar Qitfir Al Aziz mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." Yusuf pun bersyukur kepada Allah karena kebenaran telah bisa dibuktikan.

Setelah Yusuf keluar dari penjara, raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang kepercayaanku."

Yusuf menghadap raja. Terjadilah percakapan yang cukup serius. Raja berkata," Mulai hari ini, engkau memiliki kedudukan yang tinggi dan terpercaya di sisi kami."

Mendengar penawaran tersebut. Yusuf berkata kepada raja, "Jika memang engkau percaya kepadaku. jadikanlah aku bendaharawan negara. Sesungguhnya, aku mampu menjaga juga berpengetahuan dalam hal tersebut."

Sejak seat itu, raja mengumumkan jabatan baru Nabi Yusuf, yaitu sebagai bendaharawan negara. Dengan jabatan tersebut, raja memberikan kewenangan kepadanya untuk menjalankan rode pemerintahan. khususnya menangani krisis yang akan terjadi.

Nabi Yusuf bekerja keras untuk melaksanakan amanat dari raja. Di bawah kepemimpinannya, Mesir menjadi negeri yang adil, makmur, dan damai. Selain menjalankan roda pemerintahan, Yusuf juga giat berdakwah menyampaikan ajaran Allah sehingga pengikutnya bertambah bariyak dart hari ke hari.

Sebagaimana yang pernah diramalkan Nabi Yusuf, negeri ini dilanda kemarau yang sangat panjang. Banyak rakyat yang kehabisan gandum. Mereka berbondong-bondong datang ke Kerajaan Mesir. Saudara-saudara Nabi Yusuf yang dulu pernah mencelakainya pun datang ke Kerajaan Mesir. Mereka mencoba untuk meminta bantuan. Mereka mendengar bahwa Kerajaan Mesir memiliki seorang pejabat yang mampu menghadapi krisis yang tengah terjadi. Mereka juga mendengar bahwa di sana mereka bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Saudara-saudara Yusuf sampai di Mesir. Mereka langsung menuju kerajaan. Yusuf melihat mereka. la langsung mengenali mereka satu per satu. Akan tetapi, saudara- saudaranya tidak mengenalinya. Lalu, Yusuf memberikan gandum kepada mereka. Yusuf berpesan, jika datang kembali. mereka harus membawa serta saudara bungsu mereka, yaitu Bunyamin. Mereka merasa heran bagaimana Yusuf mengetahut tentang Bunyamin. Akan tetapi, mereka tidak terlalu memikirkannya. Permasalahan mereka lebih besar dibanding dengan memikirkan keanehan tersebut.

Yusuf berkata kepada pegawainya, "Masukkanlah barang-barang penukar kepunyaan mereka ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahui-nya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya. Mudah-mudahan mereka kembali lagi".

Sesampainya di kampung halamannya, mereka menyampaikan pesan tersebut kepada ayah mereka, "Wahai Ayah, kami tidak akan mendapat gandum lagi jika tidak membawa Bunyamin. Oleh sebab itu, biarkanlah Bunyamin pergi bersarna kami agar kami mendapat gandum. Kami akan menjaganya dengan baik."

Mendengar permintaan tersebut, Nabi Yaqub ragu dan tidak percaya. la khawatir peristiwa Yusuf akan terulang kembali. Akan tetapi, mereka meyakinkan Nabi Yaqub bahwa mereka akan mendapatkan gandum jika membawa serta Bunyamin.

Ketika membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang penukaran mereka dikernbalikan kepada mereka. Mereka berkata, "Wahai Ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)"

Setelah yakin dengan ucapan anak-anaknya, Yaqub pun kemudian mengizinkan mereka membawa Bunyamin. Yaqub meminta janji dari mereka untuk menjaga Bunyamin dengan sebaik mungkin.

Setelah sampai di kerajaan, mereka disambut balk oleh Nabi Yusuf. Mereka diberikan tempat istirahat yang nyaman. Mereka merasa senang karena mereka disambut dengan kehangatan.

Sementara itu, Yusuf mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan Bunyamin karena ia telah lama merindukannya. Akhirnya, kesempatan itu pun tiba. Yusuf mengundang Bunyamin untuk bertemu di ruangannya. Yusuf berkata, "Sesungguhnya aku adalah saudaramu. Janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan."

Waktunya bagi saudara-saudara Yusuf kembali pulang. Mereka bersiap kembali ke Palestina. Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Yusuf memasukkan tempat minum milik kerajaan ke kantong Bunyamin. Ketika para pengawal kerajaan memeriksa di pintu keluar kerajaan, mereka menemukan tempat minum milik kerajaan dalam kantong yang dibawa oleh Bunyamin. Hal ini terpaksa membuat Bunyamin ditangkap. Bunyamin tidak bisa pulang bersama saudara- saudaranya.

Saudara-saudara Bunyamin berusaha untuk bisa membebaskan adiknya. Mereka memohon dengan berkata. "Wahai Tuan, sesungguhnya ia memiliki ayah yang sudah lanjut usia. Oleh karena itu. ambillah salah seorang dari kami sebagai pengganti adik kami."

Yusuf berkata, "Sesungguhnya kami menahan adikmu karena ia terbukti telah mengambil barang milik kerajaan. Oleh sebab itu, kami tidak bisa membebaskannya. Jika kalian ingin adik kalian bebas, kembalilah kalian dan bawa ayah kalian ke sini untuk mengambil adik kalian."

Akhirnya, mereka pulang tanpa membawa serta Bunyamin. Mereka merasa sangat bersalah. Mereka telah berjanji kepada ayah mereka. Akan tetapi. mereka tidak mampu menepati janji mereka.

Sesampainya di Palestina, mereka menyampaikan kabar penahanan Bunyamin. Mereka pun menyampaikan permintaan seorang pejabat kerajaan untuk membawa Yaqub ke Mesir. Mendengar kabar tersebut, Nabi Yaqub menjadi sangat sedih hingga ia jatuh sakit dan kedua matanya menjadi buta.

Suatu hari, persediaan gandum kembali habis. Nabi Yaqub kembali memerintahkan anaknya agar pergi ke Kerajaan Mesir. Mereka kernudian berangkat ke Mesir. Sesampainya di sana, mereka menceritakan kondisi yang dialami ayah mereka.
Cerita Kisah Nabi Yusuf AS

Cerita Kisah Nabi Yusuf AS

"Wahai Tuan, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga. Ayah kami senantiasa bersedih karena telah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Setiap hari, beliau menangis sehingga matanya menjadi buta. Sekarang kami kekurangan makanan. Oleh karena itu, kami memohon kepada Tuan untuk memberikan gandum kepada kami."

Mendengar kabar tersebut, Nabi Yusuf sangat sedih dan iba. la tidak mampu lagi menahan perasaannya untuk memberitahukan siapa sebenarnya dirinya. Yusuf pun berkata. "Apakah kalian tahu kejahatan yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya?"

Saudara-saudara Yusuf merasa heran dan kaget. Seorang pejabat yang ada di hadapan mereka bisa mengetahui tentang perbuatan yang pernah mereka lakukan.

Kembali Yusuf berkata, " Tahukah kalian, sesungguhnya akulah Yusuf yang pernah kalian lemparkan ke dalam sumur."

Semakin kagetlah mereka dengan kata-kata yang keluar dari seorang yang selama ini mereka anggap sebagai orang lain. Mereka kemudian bertanya dengan ragu, "Apakah kamu benar- benar Yusuf?"

Yusuf menjawab, "Akulah Yusuf dan ini adalah saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."

Pengakuan Yusuf benar-benar membuat mereka kaget. Mereka semakin yakin bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Yusuf setelah melihat bukti-bukti yang ada. Mereka pun kemudian mengakui kesalahan mereka dan menyesal atas perbuatan yang pernah mereka lakukan. Akhirnya. mereka memohon maaf kepada Yusuf.

Yusuf tidak pernah merasa dendam kepada saudara-saudaranya. la memaafkan mereka dengan penuh kasih sayang. la memberi mereka makanan dan menitipkan bajunya untuk diusapkan ke mata ayahnya agar sembuh.

Sesampainya di Palestina, mereka menceritakan kabar tentang Yusuf dan memberikan baju titipan yusuf pada Nabi Yaqub. Mendengar kabar tersebut. Nabi Yaqub menjadi sangat gembira. Ketika baju Yusuf diusapkan ke matanya tiba-tiba saja matanya sembuh dari kebutaan. Kegembiraan yang dirasakan Yaqub begitu besar. la tak sabar untuk bertemu dengan anaknya yang telah lama dirindukannya.

Mereka semua berangkat ke Mesir untuk bertemu Nabi Yusuf. Ketika sampai di Mesir, mereka disambut suka cita oleh Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf menaikkan ayahnya di singgasana sambil berkata, "Wahai Ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Sesungguhnya. Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

Beberapa waktu kemudian, karena berhasil mengatasi krisis, akhirnya Nabi Yusuf diangkat menjadi raja. la memimpin Mesir dengan adil, makmur, dan damai.

Sementara itu, lama tidak terdengar kabarnya. Zulaikha ternyata masih mencintai Nabi Yusuf. Ketika suaminya telah meninggal rasa cintanya kepada Yusuf semakin kuat. Meskipun usia Zulaikha semakin matang, pesona kecantikannya tetap memancar. Dia telah bertobat dan mengakui kesalahannya. Nabi Yusuf pun tertarik kepada Zulaikha. Akhirnya, keduanya menikah dan hidup bahagia.

Dari pernikahannya tersebut, keduanya dikaruniai dua orang anak bernama Ifratsim dan Minsya. Nabi Yusuf terus berdakwah hingga meninggal di usia 110 tahun dan dimakamkan di dekat makam Ibrahim.

Sumber : http://dongengceritarakyat.com/sejarah-cerita-kisah-nabi-yusuf-as-dan-mukjizatnya/

Kisah Perjalanan Hidup Nabi Musa As.



Nabi Musa bin Imron bin


Qahat bin Lawi bin Ya’qub beribukan Yukhabad. Beliau


manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan


bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan menuntun


mereka pada tanah perjanjian yang dijanjikan Allah


kepada Nabi Ibrahim AS, yaitu tanah Kanaan. Ia diangkat


menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM.


Musa bergelar Kalimullah (seseorang yang berbicara


dengan Allah). Musa merupakan figur yang paling sering


disebut di Al-Quran, yakni sebanyak 136 kali serta


termasuk golongan Ulul Azmi.


Nabi Musa harus melewati berbagai macam rintangan


sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai


orang yang diutus oleh Allah untuk membebaskan kaum


Bani Israel. Misalnya, hampir dibunuh ketika ia masih


bayi, dikejar-kejar oleh Fira’un, sampai harus menjalani


hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun.


Nabi Musa as merupakan anak laki-laki Imron bin Yash-


har, dan bersaudara dengan Nabi Harun as serta Miryam.


Nabi Musa dilahirkan pada waktu zaman raja yang sangat


zalim yaitu Fir’aun sebagai penguasa Mesir dan disembah


oleh orang-orang Mesir.


Hingga tibalah suatu masa kaum Bani Israel semakin


banyak dan semakin menyebar. Raja Fir’aun yang kafir,


bengis dan menganggap dirinya Tuhan itu melihat bahwa


Bani Israel semakin banyak dan semakin berkembang.


Pada suatu malam, Fir’aun bermimpi bahwa mahkota


yang dipakainya hilang. Untuk mengartikan mimpi


tersebut, Fir’aun memanggil ahli ramalnya. Berdasarkan


ramalan, mimpi itu disebut merupakan pertanda bahwa


pada suatu masa kekuasaan raja akan terancam oleh


seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi akan dilahirkan.


Mendengar arti mimpi tersebut, Fir’aun kemudian


memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh semua


bayi laki-laki yang lahir di negerinya.


Namun para penasehat dan pakar ekonomi kerajaan


berkata kepada Fir’aun; Orang-orang tua dari Bani Israel


akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak


kecil disembelih, maka ini akan berakhir pada hancurnya


dan binasanya Bani Israil. Tetapi Firaun akan kehilangan


kekayaan dan asset manusia yang dapat bekerja


untuknya atau menjadi budak-budaknya serta wanita-


wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik


adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai


berikut: anak laki-laki disembelih pada tahun pertama,


dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya.


Fir’aun pun setuju dengan pendapat itu, karena


mengganggap pemikiran itu lebih menguntungkan dari


sisi ekonomi.


Ketika ibu Nabi Musa mengandung nabi Harun, aturan itu


belum dilaksanakan dimana anak-anak kecil laki-laki


tidak dibunuh dan para ibu bisa melahirkan dengan


terang-terangan. Namun ketika melahirkan mengandung


Nabi Musa, ia berada di tahun dimana anak-anak kecil


harus dibunuh. Sang ibu pun merasa sangat cemas dan


ketahukan yang luar biasa. Ia takut bahwa jangan-jangan


anak yang kelak dilahirkannya akan iktu dibunuh. Ia pun


melahirkan Nabi Musa secara diam-diam. Dan untuk


menyembunyikan bayinya, sang ibu pun menyusui secara


sembunyi-sembunyi. Lalu tibalah suatu malah yang


penuh berkah, dimana saat itu Allah Yang Maha


Mengetahui memberi wahyu kepadanya, sebagai berikut:


“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia dan


apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah


dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan


janganlah (pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya


kami akan mengembalikannya kepadamu, dan


menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Qs 28 :


7)


Mendengar wahyu Allah dan panggilan yang penuh kasih


sayang serta suci itu, ibu Nabi Musa langsung


mentaatinya. Lalu ia membuat peti kecil untuk Nabi Musa


as. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di di dalam


peti. Kemudian ia berangkat ke tepi sungai Nil lalu


menghanyutkan bayinya di atas air. Ibu mana yang tega


membuang anak yang dilahirkannya, hatinya penuh


derita ketika ia melempar anaknya di sungai Nil. Namun,


semua itu ia lakukan karena merupakan perintah dari


Allah.


Beberapa saat setelah hanyut di sungai Nil, Allah


memerintahkan arus sungai Nil agar menjadi tenang dan


mengalir lembut demi bayi yang dibawanya yang kelak


akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa


memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan


membawa keselamatan bagi nabi Ibrahim as, begitu juga


Allah memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa


Nabi Musa dengan tenang dan penuh kelembutan


sehingga mengarahkannya ke istana raja Fir’aun. Lalu,


air sungai Nil tersebut membawa peti yang berisi Nabi


Musa menuju arah istana raja fir’aun.


Setelah sampai di tepi dekat istana, bayi Nabi Musa ini


ditemukan oleh istri Fir’aun yang kebetulan keluar untuk


berjalan-jalan di kebun istana. Istri raja Fir’aun tidak


sama dengan Fir’aun. Wanita itu memiliki sifat yang amat


baik dan lembut. Namun wanita itu merasakan kesedihan


yang dalam karena ia belum mampu melahirkan anak. Ia


ingin sekali memiliki anak. Ketika ia melihat Musa yang


hanyut, maka muncullah keinginan untuk merawat bayi


tersebut.


Setelah menemukan bayi itu, istri Fir’aun pun


membawanya pulang ke istana. Ia menggendong nabi


Musa yang sedari tadi menangis karena kelaparan. Di saat


yang sama Fir’aun sedang duduk di atas meja makan dan


ia menunggu istrinya yang tak kunjung datang hingga


mulai marah lalu mencarinya.


Tiba-tiba Fir’aun terkejut saat melihat isterinya


menggendong seorang bayi. Kemudian Fir’aun bertanya:


“Dari mana datangnya anak kecil ini?” Kemudian sang


istri menceritakan bahwa ia menemukannya di sebuah


peti di tepi sungai dan memerintah prajurit


menyelematkan bayi hanyut itu. Fir’aun berkata: “Ini


adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan


peraturan, anak-anak yang lahir di tahun ini harus


dibunuh”. Mendengar perkataan dari Fir’aun itu, ia


menangis. Ia memeluk Nabi Musa dengan erat dan


memohon agar kali ini keinginannya merawat bayi itu


dikabulkan.


Seperti yang tertulis dalam Al Qur’an:


“Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk


mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu


membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada


kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tidak


menyadarinya.” (Qs. 28:9)


Fir’aun tampak kebingungan melihat tingkah isterinya


yang begitu melindungi bayi yang ia temukan. Fir’aun


tampak tak percaya dimana ia tidak pernah mendapati


isterinya menangis karena sekhawatir dicampur rasa


bahagia. Fir’aun mulai luluh karena menyadari bahwa


istrinya menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri,


apalagi pernikahan mereka belum mendapatkan


keturunan.


Kisah Nabi Musa Bertemu Ibu Kandungnya


Istri Fir’aun tampak bahagia setelah keputusan yang


diambil oleh suaminya. Namun karena bukan ibu


kandung, ia mulai mendapat masalah lantaran Musa


mulai kelaparan dan membutuhkan susu. Kemudian


Fir’aun berkata: “Datangkanlah kepadanya wanita yang


menyusui dari istana”. Sayang, dari kesemua wanita


yang dipanggil, bayi Musa selalu menolak untuk disusui.


Melihat hal tersebut, istiri Firaun makin sedih dan


menangis karena tidak tahan melihat penderitaan bayi


yang baru ditemukannya itu. Ia dilanda kekalutan dan


kebingungan apa yang harus dilakukannya.


Tibalah saat ibu kandung Musa merindukan anaknya yang


ia buang ke sungai Nil. Ia juga mendengar kabar bahwa


ada bayi laki-laki yang ditemukan pihak kerajaan dan


dipelihara oleh permaisuri kerajaan.


Allah SWT menaruh kedamaian dalam hatinya: “Pergilah


dengan tenang ke istana firaun dan berusahalah untuk


mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau


hati-hati agar jangan sampai mereka mengetahuimu.”


Didorong rasa rindu, ia lalu berusaha pergi ke istana


Fir’aun untuk mendapatkan berita tentang bayinya.


Kemudian ia pergi dengan tenang. Ia bisa melihat nabi


Musa dari kejauhan dan mendengarkan suara


tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan


kebingungan lantaran mereka tidak mengetahui


bagaimana menyusuinya.


Ibu Nabi Musa mendekati para pengawal istana dan


menawarkan diri supaya diberi kesempatan untuk


membawa seseorang yang bisa menyusui bayi itu.


Disampaikanlah ke istri Fir’aun dan ia menjawab kalau


orang itu bisa maka ia akan memberi imbalan yang sangat


besar.


Maka si ibu yang sebetulnya adalah ibu kandung Musa


akhirnya menyusuinya dan Nabi Musa mulai tenang.


Melihat hal itu, istri Fir’aun sangat gembira dan


menyuruh ibu tersebut membawa Musa ketempatnya


hingga waktu menyusuinya selesai. Istri Fir’aun


berpesan, jika sudah selesai, ia meminta Musa untuk


segera dikembalikan ke istana. Itulah cara Allah Yang


Maha Adil dan Maha Kuasa mengembalikan Nabi Musa ke


dekapan ibunya.



“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya


hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa,


seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia


termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).


Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang


perempuan, “Ikutilah dia”. Maka terlihatlah olehnya


Musah dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya,


dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-


perempuan yhang mau menyusui-nya sebelum itu; maka


berkatalah saudara Musa: “Maikah kamu Aku tunjukkan


kepadamu Ahlubait yang akan memeliharanya untukmu


dan mereka dapat berlaku baik kepadanya. Maka Kami


kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya


dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui janji


Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia tidak


mengetahuinya.” (Qs. 28 : 10 – 13)


Setelah proses menyusui selesai, Musa dikembalikan lagi


ke istana. Nabi Musa tumbuh dan dididik di istana


termegah itu di bawah bimbingan dan penjagaan Allah


SWT. Pendidikan Nabi Musa dimulai di rumah Fir’aun di


mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para


pengajar. Mesir saat itu merupakan negeri yang besar di


dunia dan Fir’aun sebagai raja yang paling kuat. Karena


itu dengan mudah Fir’aun mampu mengumpulkan para


pakar pendidikan dan para cendekiawan.


Nabi Musa tumbuh di istana Fir’aun. Beliau mempelajari


ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia dan bahasa.


Beliau juga dalam bimbingan agama yang benar sehingga


ia menepis semua anggapan jika Fir’aun itu Tuhan.


Hingga suatu ketika tiba waktu Nabi Musa juga


mengetahui bahwa sebenarnya ia bukanlah anak kandung


Fir’aun.


Singkat kisah, ada suatu masa kejadian dimana Musa


sempat membunuh seseorang. Kejadiannya terjadi saat


Musa melepaskan diri dari pengawal dan pergi ke kota.


Nabi Musa melihat perkelahian dan berniat untuk melerai


kedua orang yang berkelahi itu. Namun tanpa disengaja,


Musa malah membunuhnya. Kemudian nabi Musa berdoa


kepada Allah dan berkata:


“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku


maka ampunilah aku.”


Allah yang maha pengampun mengampuninya. Peristiwa


ini dikisahkan dalam Alquran:


Allah berfirman: “Dan setelah Musa sudah cukup umur


dan sempurna akalnya. Kami berikan kepadanya hikmah


kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah kami


memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.


Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya


sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu dua


orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari


golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya


(kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya


meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang


yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah


musuhnya itu.


Musa berkata: “Ini adalah perbuatan setan.


Sesungguhnya setan adalah musuh yang menyesatkan


lagi (permusuhannya). Musa berdoa: “Ya Tuhanku,


sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri


karena itu ampunilah aku.”


Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya dialah Yang


Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.


Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang engkau


anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan


menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.”


Nabi Musa adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim. Kedua


dari kalangan Ulul Azmi. Tetapi Nabi Ibrahim merupakan


cermin kesabaran dan kelebutan sementara itu Nabi


Musa merupakan cermin dari kekuatan dan keperkasaan.


Mukjizat Nabi Musa


Nabi Musa menikahi anak gadis Nabi Syu’aib bernama


Shafura. Dari sinilah berawal turunnya wahyu dan


mukjizat Allah SWT kepadanya.



Dalam pernikahan tersebut terdapat sebuah perjanjian


yang mengharuskan Nabi Musa bekerja untuk Nabi


Syu’aib selama 10 tahun. Ternyata, sepuluh tahun waktu


yang dihabiskan oleh Nabi Musa bekerja untuk Nabi


Syu’aib di Madyan merupakan suatu ketentuan yang


dirancang oleh Allah SWT. Karena sebelum datangnya


wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, dari


situlah Nabi Musa memperkuat diri untuk menerima wayu


yang datang langsung dari Allah tanpa perantara


seorang malaikat.


Pada akhirnya, datang waktu Musa memutuskan kembali


ke Mesir. Meski tahu berbahaya bagi keselamatan dirinya


dan istrinya, Musa tetap memutuskan melakukan


perjalanan.


Musa mulai mendapatkan kesulitan karena sempat


tersesat. Tapi karena tersesatnya itu, ia melihat sebuah


api. Lalu ia berfikir ingin mendapatkannya untuk


dijadikan obor penerang jalan. Musa meninggalkan


istrinya sebentar untuk mendapatkan api itu. Namun


tiba-tiba saja, Musa mendengar sebuah suara dari api


tersebut yang ternyata wahyu dari Allah SWT.


“Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia:


‘bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat


api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan


maha suci Allah, Tuhan semesta alam’. (Qs. 27 : 8)


Lalu Allah berfirman kepadanya: Sesungguhnya aku


inilah Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu


(sendal), sesungguhnya kamu berada di lembah yang


suci, Thuwa’ (Qs. 20 : 12). Lembah tempat Nabi Musa as


berdiri adalah lembah Thuwa’. Nabi Musa as meletakkan


kedua tangannya di atas kedua matanya karena saking


dahsyatnya cahaya. Nabi Musa as ruku’ dan melepas


kedua sandalnya, kemudian Allah SWT kembali berkata:


“Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa


yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya aku


ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku,


maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk


mengingat aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan


datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap


tipa dari itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka


sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh


orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang


mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu


binasa. “(Qs. 20 : 13 – 16)


Allah bertanya tentang apa yang dipegang oleh Musa


(Tongkat) dan menyuruhnya untuk melemparkan benda


tersebut ke tanah. Dengan kebesaran Allah, tongkat itu


berubah menjadi ular. Tongkat ini jugalah awal dimana


Allah menyerukan Nabi Musa untuk menemui Fir’aun.


Inilah mukjizat pertama Allah kepada Musa As.


“Dan lemparkanlah tongkatmu,” maka tatkala (tongkat


itu menjadi luar) dan Musa melihatnya bergerak-gerak


seperti seekor ular yang gesit. Larilah ia berbalik ke


belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu


takut, sesungguhnya orang menjadi rasul, tidak takut di


hadapanku.” (Qs 27 :10)


Kemudian Allah SWT memerintahkannya untuk pergi


menemui Firaun dan berdakwah kepadanya. Dengan


adanya ketakutan, Nabi Musa berdoa kepada Allah agar


diberi kemudahan dan kekuatan.


Dalam melaksanakan dakwahnya. Allah pun menjamin


keselamatan utusannya dengan berjanji tidak ada


seorang pun yang bisa menyakiti Musa.


Allah SWT berfirman:


“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (firaun) dan


katakanlah : “sesungguhnya kami berdua adalah utusan


Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami


dan janganlah kamu menyiksa mereka.” (Qs. 20 : 47)


Berdua disini maksudnya bersama Nabi Harun. Ya,


seperti diceritakan dalam kisah Nabi Harun, Nabi Musa


memang secara khusus meminta kepada Allah SWT agar


saudaranya Harun diangkat menjadi Nabi untuk


membantunya berdakwah karena keunggulannya fasih


dalam berbicara/berdakwah.


Maka dari itu, Nabi Musa menjelasakan kepada Fir’aun


tentang siapa sebenarnya Allah SWT, tentang Rahmat-


Nya, tentang surga-Nya, dan tentang kewajiban


mengesankan-Nya dan menyembah-Nya. Namun Fir’aun


malah mengejek Musa dan berkata bahwa nabi Musa as


adalah tukang sihir.


Lalu Fir’aun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya


untuk bertanding melawan Nabi Musa as di suatu area


yang telah ditentukan waktu dan tempatnya. Di antara


mereka ada yang melemparkan tali, tongkat, maka


berubahlah tongkat dan tali itu menjadi ular yang


menjalar. Lalu nabi Musa merasa takut, karena telah


dikelilingi ular-ular yang berbisa.



Lalu Allah memerintahkan kepada Musa dengan


firmanNya:


“Lemparkanlah tongkat yang di tangan kananmu, nanti


berubah menjadi ular yang besar yang akan menelan


segala perbuatan mereka itu, sesungguhna kerja mereka


itu adalah tipu daya tukang sihir saja dan sekali-kali


tidaklah akan menang tukang sihir itu, bagaimanapun


juga.”


Akhirnya, semua ahli sihir termasuk istri Fir’aun, Siti


Aisah tunduk kepada Nabi Musa. Karena melihat tukang


sihirnya dan istrinya telah beriman kepada Nabi Musa,


Fir’aun dirasuki amarah yang begitu besar sehingga


isterinya disiksa hingga meninggal, demikian juga


orang-orang yang iktu beriman kepada Allah disiksa


dengan sangat berat.


Sadar kondisi tidak terkendali, Akhirnya Nabi Musa as


bersama-sama orang yang beriman pergi keluar dari


Mesir. Tapi Fir’aun dan pasukannya mengejar Nabi Musa


hingga ke laut merah.


Disitulah, datang mukjizat Allah lainnya kepada Nabi


Musa. Dengan kebesaran dan izin-Nya, Allah


memerintahkan Musa untuk membelah lautan dengan


tongkatnya demi menghindari kejaran Fir’aun.


Subhanallah, laut pun berubah menjadi jalan besar dan


membelah menjadi dua untuk dilalui Nabi Musa as


bersama para pengikutnya.


Beruntung bagi Musa sial untuk Fir’aun. Ketika Fir’aun


dengan bala tentaranya mengejar dari belakang dan


ketika mereka sampai di pertengahan laut, dengan


kekuasaan Allah air laut pun kembali menjadi satu.


Fir’aun bersama pasukannya ditenggelamkan oleh Allah


hinga akhirnya semua tewas.


“Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka,


lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan


mereka.” (Qs. 20 : 78)


Riwayat Nabi Musa Menampar Malaikat


Riwayat ini menceritakan saat Malaikat Maut yang


menyamar sebagai manusia ingin mencabut nyawa Nabi


Musa. Namun ketika ingin dicabut nyawanya, Nabi Musa


malah menampar Malaikat yang mengakibatkan kedua


matanya menjadi buta.


Kisah ini diceritakan dari kitab karya Imam Bukhari


tentang kisah akan wafatnya Nabi Musa. Diceritakan


bahwa pada suatu masa Malaikat Maut mendatangi Nabi


Musa.


“Wahai Nabi Alllah, penuhilah panggilan Rabb-Mu,” kata


Malaikat Maut yang menyamar sebagai manusia.


Ketika mendengar perkataan tersebut, Nabi Musa tiba-


tiba saja menampar malaikat Maut itu hingga kedua


matanya buta. Malaikat Maut itu kebingungan dan


akhirnya kembali lagi menghadap kepada Allah SWT.


“Ya Allah, Engkau telah mengutusku kepada seorang


hamba yang tidak menginginkan kematian,” kata


Malaikat.


Setelah kejadian itu, kemudian Allah SWT


mengembalikan penglihatan malaikat tersebut dan


menyuruhnya untuk kembali menemui Nabi Musa.


Dengan perantaraan malaikat tersebut, Allah SWT


memberi syarat kepada Nabinya tersebut apabila ingin


menunda kematian.


“Wahai Nabi Allah, Allah SWT telah menyuruhku agar


menyampaikan berita ini. Kalau engkau ingin menunda


kematian, maka engkau harus meletakkan tanganmu di


punggung sapi jantan, kemudian sejumlah bulu yang


tertutupi tangan itu engkau akan diperpanjang umurnya


selama 1 tahun,” kata Malaikat Maut.


“Wahai malaikat, kemudian apa setelah hitungan itu?”


tanya Nabi Musa as.


“Kemudian kematian,” jawab malaikat.


Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa as memilih untuk


tidak menunda kematian.


“Maka sekarang saja kematianku datang tanpa diundur


lagi,” ujar Nabi Musa.


Selanjutnya Nabi Musa as berdoa kepada Allah SWT


untuk mendekatkan dirinya kepada Tanah Suci (Baitul


Maqdis) sejarak lemparan batu. Di tempat itulah Nabi


Musa as meninggal dunia dengan tenang.

Sumber : http://republikpos.com/2016/01/kisah-lengkap-nabi-musa